Donor Darah Turunkan Risiko Penyakit Jantung - Dinkes Ende
Berita Dinkes :
>
http://picasion.com/i/1UiAC/
Diberdayakan oleh Blogger.
width="468" height="64" type="application/x-shockwave-flash" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" allowscriptaccess="sameDomain" />
Home » » Donor Darah Turunkan Risiko Penyakit Jantung

Donor Darah Turunkan Risiko Penyakit Jantung

Pos Kupang - Senin, 17 Juni 2013 | 12:29 WITA

POS-KUPANG.COM ---  SERINGKALI kita mendengar atau membaca, mengalami sendiri soal bagaimana sulitnya mendapatkan darah saat ada yang sakit dan membutuhkan donor darah di rumah sakit.

Karenanya ketika ada yang mendonorkan darahnya, tentu orang yang membutuhkan darah itu akan sangat bersyukur dan beruntung. Karena dengan sumbangan darah itu nyawa seseorang bisa tertolong.

Tahukah Anda, bagaimana syarat seseorang bisa mendonorkan darahnya, apa keuntungan melakukan kegiatan donor darah secara rutin dan apa manfaat darah itu bagi orang lain?

Nah, semua itu akan dijelaskan oleh dr. Fransisca Dewi Kumala, seorang dokter umum yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. TC Hillers-Maumere, Sikka.

TANGGAL 14 Juni diperingati sebagai Hari Donor Darah Sedunia. Darah merupakan komponen penting tubuh manusia yang tidak dapat dihasilkan di luar tubuh, karena itulah kebutuhan darah bagi penderita yang sedang memerlukannya hanya dapat diperoleh dari donor yang bersedia menyumbangkan darahnya.

Mendengar kata darah atau melihatnya saja bisa membuat orang pingsan. Namun donor darah ternyata dapat menjadi suatu aktivitas rutin yang selain bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan darah, juga memberikan keuntungan bagi pendonor.

Pendonor tentunya akan merasakan kepuasan batin yang tak ternilai harganya karena telah melakukan kegiatan sosial bagi kemanusiaan. Bayangkan darah yang didonorkan itu dapat menyelamatkan nyawa seorang bayi yang memerlukan transfusi tukar karena sakit kuning.

Atau bermanfaat bagi seorang anak yang harus secara rutin mendapatkan transfusi darah karena menderita thalasemia. Atau darah yang kita donorkan itu ternyata bermanfaat bagi seorang kakek yang harus menjalani operasi dan karena telah banyak kehilangan darah.

"Banyak anggapan yang beredar bahwa setelah melakukan donor darah badan akan terasa lemas karena tubuh kekurangan darah, namun yang terjadi justru sebaliknya. Si pendonor akan memperoleh kesegaran karena tubuhnya akan kembali memproduksi darah  'baru' yang bermanfaat bagi kesehatannya," kata dr. Siska.

Dokter Siska menegaskan, pendonor jangan takut kehilangan darah di tubuhnya. Memang saat mendonor, si pendonor akan kehilangan sel darahnya tapi itu hanya terjadi beberapa saat saja. Karena setelah itu sumsum tulang belakang yang merupakan pabrik sel darah pada tubuh kita itu akan memproduksi sel darah lagi.

Sumsum tulang belakang memiliki siklus produksi setiap seratus dua puluh hari. Sel darah yang hilang karena donor akan menjadi stimulasi untuk memproduksi sel darah dan karena itulah salah satu syarat donor darah adalah jarak waktu antardonor minimal tiga bulan.

Salah satu penyusun penting sel darah adalah zat besi yang dipakai berulang kali saat proses produksi dan penghancuran sel darah. Kadar zat besi yang terlalu tinggi di dalam tubuh dapat bersifat sebagai racun, yaitu menyebabkan penumpukan kolesterol jahat pada dinding pembuluh darah.

Hal tersebut akan meningkatkan risiko terkena serangan jantung dan stroke. Karena itu pada suatu penelitian yang telah dilakukan pada orang-orang yang rutin melakukan donor darah, jumlah zat besi dalam darah dapat lebih stabil dan menurunkan risiko terkena penyakit jantung.

"Pada penelitian pada tahun 2012 dipaparkan bahwa donor darah rutin dapat secara efektif menurunkan tekanan darah, kadar glukosa, lipoprotein, serta frekuensi denyut jantung. Hal-hal tersebut tentunya menjadikan tubuh lebih sehat," jelas dr. Siska.


* Jangan Khawatir Terima Transfusi Darah

Dalam satu kali proses donor darah, ada sekitar 450 mililiter darah (setara dengan 650 kalori) akan dikeluarkan dari tubuh si pendonor. Fakta ini menjadikan donor darah salah satu metode pembakaran kalori, walaupun kegiatan donor darah ini hanya dapat dilakukan tiga bulan sekali.

Penerima transfusi darah sebenarnya tidak perlu khawatir  akan tertular penyakit akibat mendapat transfusi darah dari pendonor, yang mungkin saja tidak diketahui siapa orangnya. Mengapa tak perlu khawatir?

Dokter Siska menjelaskan, tidak ada alasan bagi penerima transfusi darah untuk khawatir. Karena dalam proses donor darah ada serangkaian pemeriksaan kesehatan sesuai standar operasional (sop) yang harus dilalui si pendonor sebelum darahnya  diterima dan digunakan oleh rumah sakit.

Bahkan sebelum mendonorkan darah, si pendonor pun akan menjalani serangkaian pemeriksaan. Seperti pemeriksaan berat badan, frekuensi nadi, tekanan darah, suhu, serta kadar hemoglobin (penyusun sel darah merah).
Proses pemeriksaan terhadap si pendonor darah itu menjadi prosedur standar yang akan dilakukan di Palang Merah Indonesia maupun rumah sakit-rumah sakit yang meyediakan pusat donor.

Dan, setelah darah diambil, dilakukan lagi pemeriksaan terhadap darah si pendonor untuk mengetahui keadaan kesehatan pendonor dan juga mendeteksi penyakit menular yang mungkin diidap oleh si pendonor dan bisa menular melalui darah yang didonorkan itu. Seperti HIV, hepatitis, sifilis, dan malaria.

Dengan pemeriksaan itu, demikian dokter Siska, maka secara tidak langsung si pendonor telah menjalani metode skrining kesehatan secara cuma-cuma. Bahkan jika ditemukan adanya penyakit menular dalam darahnya maka dapat segera dilakukan tata laksana lebih lanjut bagi si pendonor dimaksud.

Sebaliknya, jika hasil tes atau pemeriksaan itu darah si pendonor dinyatakan `bersih' maka darah yang telah atau akan didonorkan itu langsung diterima dan akan diberikan kepada orang yang membutuhkannya. Karena itu, penerima donor darah tidak perlu kuatir kalau darah yang ditransfusikan ke tubuhnya itu mengandung benih penyakit.

Demikian manfaat bagi si pendonor dan si penerima darah dimaksud.  Jadi mulai dari sekarang, atau saat peringatan Hari Donor Darah mulai tahun 2013 ini, ayo kita membiasakan diri melakukan donor darah secara rutin.

SYARAT MENDONOR DARAH
-------------------------------------------
* Tubuh pendonor dalam keadaan bugar
* Usia di atas 17 tahun
* Berat badan lebih dari 45 kilogram
* Rentang tekanan darah dan suhu tubuh dalam batas normal.
* Saat mendonor,  si pendonor tidak sedang mengonsumsi obat-obatan.
* Kadar hemoglobin di tubuh harus cukup.
* Wanita dalam masa haid tidak boleh mendonorkan darahnya. (*/vel)

Editor : omdsmy_novemy_leo
Sumber : Pos Kupang
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Dinkes Ende Website | PAG Template | LPG Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dinkes Ende - All Rights Reserved
Original Design by Dinkes Website Modified by PAG