Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Ende masih kekurangan tenaga ahli dan dokter. Akibatnya, pelayanan terhadap pasien yang mebutuhkan perawatan intensif di IGD belum optimal. Hal ini dikatakan Kepala Ruangan IGD Agus Nyoman di ruang kerjanya, Selasa (5/9).
Nyoman mengatakan ruangan yang terbuka dua puluh empat jam itu menerima dan melayani pasien kurang lebih tiga puluh orang perhari. Dan kebanyakan menderita cedera akibat kecelakaan lalu lintas dan pasien bersalin. “Kami bekerja dua puluh empat jam. Pasien yang kami terima dalam sehari rata-rata tiga puluh orang. Kebanyakan korban kecelakaan lalu lintas dan pasien bersalin. Kami bekerja sesuai visi dan misi rumah sakit ini. Tenaga perawat memang lebih dari cukup (21 orang), tetapi tenaga dokter, masih kurang. Kami mempunyai enam orang dokter, dua diantaranya dokter tetap IGD dan empat lainnya tidak tetap. Mereka biasa dipanggil ke puskesmas-puskesmas yang ada di kota Ende,”kata Nyoman.
Agus Nyoman juga mengatakan IGD masih membutuhkan sarana dan prasarana yang layak untuk memperlancar pelayanan terhadap pasien, misalnya memiliki apotik sendiri dan tempat tidur yang beroda. “Satu hal yang kami impikan adalah memiliki apotik sendiri, sehingga memperlancar penanganan pasien.
Praktik selama ini, keluarga pasien harus membeli obat di apotik yang agak jauh dari ruangan IGD. Selain itu, tempat tidur yang disediakan bagi pasien sebenarnya sudah tidak layak pakai.
Agustina Mulu Sari, pasien asal Wolowaru, mengatakan penanganan pasien gawat darurat di ruangan IGD akan dilakukan dengan segera kalau pembayarannya tidak melalui Askes. “Saya sakit diare. Saya baru masuk tadi pagi dan langsung diinfus. Tapi, saya belum bisa mendapatkan obat dan penanganan lebih lanjut karena tidak membawa keluarga. Kalau kita berobat dengan menggunakan Askes berarti gratis, tapi antriannya lama. Karena saya butuh pemeriksaan cepat, maka saya bayar saja tanpa melalui Askes”kata Agustina di ruangan IGD. Agustina berharap para petugas medis memberikan pelayanan yang merata bagi semua pasien tanpa kecuali, baik yang menggunakan Askes maupun tidak menggunakan Askes.(adm,pt,florespos)
Home »
» IGD RSUD ENDE KEKURANGAN DOKTER
IGD RSUD ENDE KEKURANGAN DOKTER
Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Ende masih kekurangan tenaga ahli dan dokter. Akibatnya, pelayanan terhadap pasien yang mebutuhkan perawatan intensif di IGD belum optimal. Hal ini dikatakan Kepala Ruangan IGD Agus Nyoman di ruang kerjanya, Selasa (5/9).
Nyoman mengatakan ruangan yang terbuka dua puluh empat jam itu menerima dan melayani pasien kurang lebih tiga puluh orang perhari. Dan kebanyakan menderita cedera akibat kecelakaan lalu lintas dan pasien bersalin. “Kami bekerja dua puluh empat jam. Pasien yang kami terima dalam sehari rata-rata tiga puluh orang. Kebanyakan korban kecelakaan lalu lintas dan pasien bersalin. Kami bekerja sesuai visi dan misi rumah sakit ini. Tenaga perawat memang lebih dari cukup (21 orang), tetapi tenaga dokter, masih kurang. Kami mempunyai enam orang dokter, dua diantaranya dokter tetap IGD dan empat lainnya tidak tetap. Mereka biasa dipanggil ke puskesmas-puskesmas yang ada di kota Ende,”kata Nyoman.
Agus Nyoman juga mengatakan IGD masih membutuhkan sarana dan prasarana yang layak untuk memperlancar pelayanan terhadap pasien, misalnya memiliki apotik sendiri dan tempat tidur yang beroda. “Satu hal yang kami impikan adalah memiliki apotik sendiri, sehingga memperlancar penanganan pasien.
Praktik selama ini, keluarga pasien harus membeli obat di apotik yang agak jauh dari ruangan IGD. Selain itu, tempat tidur yang disediakan bagi pasien sebenarnya sudah tidak layak pakai.
Agustina Mulu Sari, pasien asal Wolowaru, mengatakan penanganan pasien gawat darurat di ruangan IGD akan dilakukan dengan segera kalau pembayarannya tidak melalui Askes. “Saya sakit diare. Saya baru masuk tadi pagi dan langsung diinfus. Tapi, saya belum bisa mendapatkan obat dan penanganan lebih lanjut karena tidak membawa keluarga. Kalau kita berobat dengan menggunakan Askes berarti gratis, tapi antriannya lama. Karena saya butuh pemeriksaan cepat, maka saya bayar saja tanpa melalui Askes”kata Agustina di ruangan IGD. Agustina berharap para petugas medis memberikan pelayanan yang merata bagi semua pasien tanpa kecuali, baik yang menggunakan Askes maupun tidak menggunakan Askes.(adm,pt,florespos)






0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !